Senin, 22 Februari 2010

Pewajiban Mentoring; untung atau rugi?

Kualitas anak-anak rohis yang telah teruji baik dari segi akhlaq dan akademis direspon oleh guru dengan mendukung seratus persen kegiatan-kegiatan rohis. Tentunya, ini adalah keuntungan bagi aktifis rohis. Bahkan ini adalah salah satu indikasi majunya dakwah sekolah yang mereka jalankan. 


Salah satu bentuk dukungan para guru, khususnya guru pembina rohis, adalah mewajibkan para murid kelas satu untuk ikut mentoring. Dukungan ini tentu disambut gembira oleh rohis meskipun di saat yang sama para alumni kelimpungan ngumpulin SDM untuk diturunkan sebagai mentor. Namun, ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan!


Tapi, ini tidak gratis. Para guru juga sekalian minta tolong supaya peserta mentoring itu fokus dengan BBA (Bimbingan Baca Qur'an). Hasilnya dilaporkan secara berkala. Ini wajar-wajar saja, dan tetap saja positif. Namun, ini adalah titik penting di mana struktur harus menyikapinya dengan cerdas.


Dari hasil evaluasi saya secara pribadi, pewajiban mentoring ini hanya menguntungkan dalam segi kuantitas. Sedangkan dalam segi kualitas ia malah menjadi batu sandungan. Mengapa? sederhana saja, bila mentoring difokuskan untuk BBA maka tidak ada waktu untuk mendelivery materi-materi tarbiyah dasar. Mekanisme ini juga terjadi pada kelompok mentoring anggota rohis.


Hasilnya, di tahun berikutnya para aktifis rohis itu menggerakkan rohis dengan dasar-dasar tarbiyah yang minim. Tidak berhenti sampai di situ, efek bola salju dari penyikapan yang salah pada niat baik guru ini terus bergulung...

(to be continue) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar