Refleksi Seorang Alumni
Kamis, 10 Februari 2011
Pewajiban Mentoring.. (Bag 2)
Materi-materi tarbiyah fase ta'rif mengajak peserta untuk mengenal Islam secara utuh. mengajak peserta mengkaji kembali keislaman mereka selama ini. Membenahi pemahaman dan pengalaman islam para peserta. Ujung-ujungnya mereka mulai merasakan ketinggian islam itu dan merasa nikmat menjalankannya. Inilah kapital awal untuk menjadi pengurus rohis. Mereka merasa pede berdakwah karena mereka merasakan sendiri nikmatnya berislam.
Selanjutnya muncullah aspek kedua; berbagi. Ya, menjadi pengurus rohis adalah soal berbagi. Berbagi kenikmatan berislam. Berbagi kesyahduan dekat dengan Allah. Berbagi menjadi meaningfull bagi lingkungan. Inilah visi kita; menjadi organisasi dakwah yang rajin berbagi, berbagi semangat, cinta dan ilmu.
Terakhir yang juga sama pentingnya adalah terbentuknya kohesi kelompok. Karena itu penting menurut saya untuk langsung membentuk mentoring pengurus rohis tersendiri semenjak kelas X. Tidak perlu khawatir ada rasa iri atau pandangan miring dari teman-teman peserta mentoring kelas X yang lain. Mereka juga pasti paham kalo pengurus rohis pasti butuh tempat ngumpul sendiri untuk konsolidasi mereka. Sebagaimana mereka pasti punya forum sendiri-sendiri untuk ekskul mereka.
Apa yang dimaksud dengan kohesi kelompok? kohesi kelompok pendeknya adalah kesolidan tim. Bila pengurus rohis sudah dikumpulkan tersendiri semenjak kelas X maka mereka akan punya pengalaman setahu bersama menikmati tarbiyah. Ta'aruf diantara mereka sudah terbentuk. Ini sangat penting dimiliki dalam pengurusan rohis nanti. Kalau perlu kelompok mentoring rohis dibuat satu saja meskipun jumlahnya mencapai 15 orang. Tentu dibutuhkan mentor yang komitmen untuk mengawal mereka.
Bersediakah antum menjadi mentor? semoga jawabnya 'Yak!'.
Senin, 22 Februari 2010
Pewajiban Mentoring; untung atau rugi?
Kualitas anak-anak rohis yang telah teruji baik dari segi akhlaq dan akademis direspon oleh guru dengan mendukung seratus persen kegiatan-kegiatan rohis. Tentunya, ini adalah keuntungan bagi aktifis rohis. Bahkan ini adalah salah satu indikasi majunya dakwah sekolah yang mereka jalankan.
Salah satu bentuk dukungan para guru, khususnya guru pembina rohis, adalah mewajibkan para murid kelas satu untuk ikut mentoring. Dukungan ini tentu disambut gembira oleh rohis meskipun di saat yang sama para alumni kelimpungan ngumpulin SDM untuk diturunkan sebagai mentor. Namun, ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan!
Tapi, ini tidak gratis. Para guru juga sekalian minta tolong supaya peserta mentoring itu fokus dengan BBA (Bimbingan Baca Qur'an). Hasilnya dilaporkan secara berkala. Ini wajar-wajar saja, dan tetap saja positif. Namun, ini adalah titik penting di mana struktur harus menyikapinya dengan cerdas.
Dari hasil evaluasi saya secara pribadi, pewajiban mentoring ini hanya menguntungkan dalam segi kuantitas. Sedangkan dalam segi kualitas ia malah menjadi batu sandungan. Mengapa? sederhana saja, bila mentoring difokuskan untuk BBA maka tidak ada waktu untuk mendelivery materi-materi tarbiyah dasar. Mekanisme ini juga terjadi pada kelompok mentoring anggota rohis.
Hasilnya, di tahun berikutnya para aktifis rohis itu menggerakkan rohis dengan dasar-dasar tarbiyah yang minim. Tidak berhenti sampai di situ, efek bola salju dari penyikapan yang salah pada niat baik guru ini terus bergulung...
(to be continue)
Kamis, 11 Februari 2010
Jebakan 'eksklusifitas'
"Din, lo jadi anak rohis kok eksklusif banget sih?"
Teman-teman aktifis rohis mungkin sudah akrab dengan teguran macam ini, ya? Kata 'eksklusif' memang sering menjadi momok bagi anak-anak rohis. Kata ini membuat mereka jadi sering salah tingkah di depan teman-temannya. Mereka mendapati diri mereka berhadapan dengan sebuah dilema. Di satu sisi mereka harus - dan menikmati - berhubungan intens dengan teman-teman sesama aktivis rohis tapi mereka juga punya kewajiban untuk menyeru teman-teman mereka kepada Islam yang berarti mereka harus mempunyai hubungan yang dekat dengan teman-teman mereka. Dan, menjadi dekat artinya harus memberi ruang toleransi lebih besar untuk teman-teman mereka terhadap hal-hal yang kurang Islami yang dilakukan oleh teman-teman mereka. Ini perkara yang tidak mudah!
Demi menghilangkan citra 'anak eksklusif' ini banyak para aktifis yang membuka lebar pintu toleransi pada teman-temannya dalam bergaul. Tapi sayang, banyak diantara aktivis ini yang termakan oleh niat baiknya. Mereka malah jadi terbawa arus. Lantas bagaimana seharusnya anak rohis bersikap?
Bagaimana para aktivis rohis menyikapi lingkungannya adalah parameter paling akurat dalam mengukur sejauh mana pembinaan di sebuah sekolah berjalan. Bukan dari banyaknya kelompok halaqah, SDM alumni, jumlah anggota rohis, dan lain-lain. Tapi dari bagaimana para pengurus rohis bersikap pada teman-teman dan lingkungan mereka.
Saat seorang aktivis rohis bersikap tegas dan menahan diri untuk tidak ikut atau tidak menyetujui sebuah pendapat atau opini teman-teman mereka karena tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami, maka timbulah citra eksklusifitas. Mengapa? karena apa yang dia tidak setujui adalah opini umum yang 'berlaku wajar' bagi teman-temannya yang lain. Dan, terus terang jika kondisinya seperti ini maka saya mengatakan bahwa anak rohis HARUS EKSKLUSIF!
Eksklusif yang benar. Eksklusif yang mencerminkan sebuah kualitas tinggi. Menjadi eksklusif adalah menjadi berbeda. Dan tidak bisa dipungkiri, anak rohis memang berbeda dengan teman-temannya yang tidak aktif di rohis. Perbedaan adalah hal yang wajar. Dan perbedaan tidak lantas menjadi jurang pemisah antara anak rohis dan bukan anak rohis.
Saya tidak menyebutkan bahwa teman-teman mereka di luar rohis lebih buruk, tidak! saya hanya mengatakan bahwa aktivis rohis dan yang bukan aktivis rohis adalah berbeda. Anak rohis berkesempatan untuk menimba ilmu agama lebih banyak sedangkan teman-temannya belum mendapatkan kesempatan itu. Ilmu yang didapatkan itu tentunya harus berdampak pada perilakunya bukan? Inilah yang melahirkan eksklusifitas. Eksklusifitas dalam arti positif yaitu sebuah kualitas diri seorang muslim yang senantiasa ingin belajar dan berakhlakul karimah. Eksklusifitas ruhiyah seorang muslim justru melahirkan sebuah cinta yang meletup-letup pada hatinya untuk terus merangkul sahabat dan mengejak mereka bersama-sama menuju tempat yang lebih baik.
Jadi, tetaplah menjadi sahabat yang terbaik bagi teman-temanmu dan tetaplah menjadi eksklusif.