"Din, lo jadi anak rohis kok eksklusif banget sih?"
Teman-teman aktifis rohis mungkin sudah akrab dengan teguran macam ini, ya? Kata 'eksklusif' memang sering menjadi momok bagi anak-anak rohis. Kata ini membuat mereka jadi sering salah tingkah di depan teman-temannya. Mereka mendapati diri mereka berhadapan dengan sebuah dilema. Di satu sisi mereka harus - dan menikmati - berhubungan intens dengan teman-teman sesama aktivis rohis tapi mereka juga punya kewajiban untuk menyeru teman-teman mereka kepada Islam yang berarti mereka harus mempunyai hubungan yang dekat dengan teman-teman mereka. Dan, menjadi dekat artinya harus memberi ruang toleransi lebih besar untuk teman-teman mereka terhadap hal-hal yang kurang Islami yang dilakukan oleh teman-teman mereka. Ini perkara yang tidak mudah!
Demi menghilangkan citra 'anak eksklusif' ini banyak para aktifis yang membuka lebar pintu toleransi pada teman-temannya dalam bergaul. Tapi sayang, banyak diantara aktivis ini yang termakan oleh niat baiknya. Mereka malah jadi terbawa arus. Lantas bagaimana seharusnya anak rohis bersikap?
Bagaimana para aktivis rohis menyikapi lingkungannya adalah parameter paling akurat dalam mengukur sejauh mana pembinaan di sebuah sekolah berjalan. Bukan dari banyaknya kelompok halaqah, SDM alumni, jumlah anggota rohis, dan lain-lain. Tapi dari bagaimana para pengurus rohis bersikap pada teman-teman dan lingkungan mereka.
Saat seorang aktivis rohis bersikap tegas dan menahan diri untuk tidak ikut atau tidak menyetujui sebuah pendapat atau opini teman-teman mereka karena tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami, maka timbulah citra eksklusifitas. Mengapa? karena apa yang dia tidak setujui adalah opini umum yang 'berlaku wajar' bagi teman-temannya yang lain. Dan, terus terang jika kondisinya seperti ini maka saya mengatakan bahwa anak rohis HARUS EKSKLUSIF!
Eksklusif yang benar. Eksklusif yang mencerminkan sebuah kualitas tinggi. Menjadi eksklusif adalah menjadi berbeda. Dan tidak bisa dipungkiri, anak rohis memang berbeda dengan teman-temannya yang tidak aktif di rohis. Perbedaan adalah hal yang wajar. Dan perbedaan tidak lantas menjadi jurang pemisah antara anak rohis dan bukan anak rohis.
Saya tidak menyebutkan bahwa teman-teman mereka di luar rohis lebih buruk, tidak! saya hanya mengatakan bahwa aktivis rohis dan yang bukan aktivis rohis adalah berbeda. Anak rohis berkesempatan untuk menimba ilmu agama lebih banyak sedangkan teman-temannya belum mendapatkan kesempatan itu. Ilmu yang didapatkan itu tentunya harus berdampak pada perilakunya bukan? Inilah yang melahirkan eksklusifitas. Eksklusifitas dalam arti positif yaitu sebuah kualitas diri seorang muslim yang senantiasa ingin belajar dan berakhlakul karimah. Eksklusifitas ruhiyah seorang muslim justru melahirkan sebuah cinta yang meletup-letup pada hatinya untuk terus merangkul sahabat dan mengejak mereka bersama-sama menuju tempat yang lebih baik.
Jadi, tetaplah menjadi sahabat yang terbaik bagi teman-temanmu dan tetaplah menjadi eksklusif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar